BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tsunami
(bahasa Jepang: 津波;
tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di
pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan
permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Di Indonesia bencana tsunami
beberapa kali sempat terjadi di beberapa daerah. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) mencatat, wilayah Indonesia digempur 13 tsunami selama 44
tahun terakhir, sejak 1965 hingga 2009. Dari 13 kali tsunami itu, korban
terbanyak terjadi di Aceh pada 26 Desember 2006 dengan 79.940 korban tewas.
Banyaknya korban dari bencana ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang
bencana tsunami ini.
1.2 Tujuan
Tujuan Penulisan makalah ini
adalah :
1) Mendeskripsikan apa itu tsunami.
2) Menjelaskan tentanng penyebab dari bencana tsunami.
3) Menjelaskan gejala-gejala yang muncul sebelum tsunami terjadi.
4) Mendeskripsikan proses terjadinya tsunami.
5) Menjelaskan persiapan dan tindakan yang dilakukan ketika
terjadi tsunami.
6) Menjelaskan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan tsunami
7) Menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh tsunami
8) Menyebutkan daerah- daerah yang di timpa bencana tsunami
1.3 Manfaat Penulisan
Agar
kita dapat mengetahui lebih dalam karakteristik dan mekanisme tsunami, serta
persiapan mengadapi tsunami, baik dalam keadaan waspada, persiapan, saat
terjadi, dan setelah tsunami terjadi.
Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian
Tsunami
Tsunami (berasal
dari Bahasa Jepang: Tsu = pelabuhan, Nami = gelombang, secara harafiah berarti
“ombak besar di pelabuhan”) yang artinya adalah perpindahan badan air
atau gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan impulsif.
Gangguan impulsif tersebut terjadi akibat adanya perubahan bentuk dasar laut
yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan
tiba-tiba(Pond and Pickard, 1983) atau dalam arah horizontal (Tanioka and
Satake, 1995).
Perubahan
permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah
laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman
meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang
dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan
kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan
500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian
gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang
tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati
pantai, kecepatan gelombang tsunami
menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat
hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga
puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi
karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang
terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
2.2 Penyebab
Tsunami
Tsunami tidak akan terjadi
jika tidak ada faktor pemicu. Faktor penyebab terjadinya tsunami ini adalah:
A. Gempa
bumi yang berpusat di bawah laut
Gempa bumi
yang berpusat dibawah laut, Meskipun demikian tidak semua gempa bumi dibawah
laut berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi dibawah laut yang dapat
menyebabkan terjadinya tsunami adalah gempa bumi dengan kriteria sebagai
berikut :
·
Gempa bumi yang terjadi di
dasar laut.
·
Pusat gempa kurang dari 30 km dari
permukaan laut.
·
Magnitudo gempa lebih besar dari
6,0 SR
·
Jenis pensesaran gempa tergolong
sesar vertikal (sesar naik atau turun).
Meskipun demikian, tidak semua gempa bumi
dibawah laut berpotensi menimbulkan tsunami.
Tsunami yang ditimbulkan
oleh gempabumi biasanya menimbulkan gelombang yang cukup besar,
tergantung dari kekuatan gempanya dan besarnya area patahan yang terjadi.
Bagaimanapun juga, penyebab yang
paling umum terjadi adalah dari gempa bumi di bawah permukaan laut. Gempa
bumi kecil bisa saja menciptakan tsunami akibat dari adanya longsor di
bawah permukaan laut/lantai samudera yang mampu untuk membangkitkan
tsunami. Tsunami dapat terbentuk mana kala lantai samudera berubah bentuk
secara vertikal dan memindahkan air yang berada di atasnya. Dengan adanya
pergerakan secara vertikal dari kulit bumi, kejadian ini biasa terjadi di
daerah pertemuan lempeng yang disebut subduksi. Gempa bumi di daerah
subduksi ini biasanya sangat efektif untuk menghasilkan gelombang tsunami.
dimana lempeng samudera slip di bawah lempeng kontinen, proses ini disebut
juga dengan subduksi.
B.
Letusan Gunung Berapi
Letusan
gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik (gempa akibat letusan
gunung berapi). Tsunami besar yang terjadi padatahun 1883 adalah akibat
meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda. Meletusnya Gunung
Tambora di Nusa Tenggara Barat padatanggal 10-11 April 1815 juga memicu
terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan Maluku. Indonesia sebagai negara
kepulauan yang beradadi wilayah ring of fire (sabuk berapi) dunia tentu harus
mewaspadai ancaman ini.
C. Longsor
bawah laut.
Longsor
bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan antara lempeng samudera dan
lempeng benua. Proses ini mengakibatkan terjadinya palung laut dan pegunungan.
Tsunami karena longsoran bawah laut ini dikenal dengan nama tsunamic
submarine landslide.
D. Hantaman
Meteor di Laut
Jatuhnya
meteor berukuran besar di laut juga merupakan penyebab terjadinya tsunami. Hal
itu dikarenakan meteor adalah salahsatu benda langit yang memiliki massa yang besar
sehingga, apabila meteor jatuh menghantam laut yang akan mengahasilkan
gelombang yang cukup besar.
2.3 Rambatan
Tsunami
Kecepatan
rambat gelombang tsunami
berbeda-beda, tergantung pada kedalaman laut. Di laut dalam, kecepatan rambat
tsunami mencapai 500 – 1000km per jam atau setara dengan kecepatan pesawat
terbang namun ketinggian gelombangnya hanya sekitar 1 meter. Ketika gelombang
tsunami ini sudah mendekati pantai, kecepatan
rambatnya hanya sekitar 30 km per jam, namun ketinggian gelombangnya bisa
mencapai puluhan meter. Ini sebabnya banyak orang yang sedang berlayar di
laut dalam tak menyadari adanya tsunami. Mereka baru mengetahui tsunami
telah terjadi ketika tiba di daratan dan menyaksikan kehancuran mengerikan yang
disebabkan oleh tsunami.
2.4
Karakteristik
Tsunami
1)
Kecepatan Tsunami
Secara empiris, kecepatan tsunami tergantung
pada kedalaman laut dan percepatan gravitasi di tempat tersebut. Untuk di
laut dalam, kecepatan tsunami bisa setara dengan kecepatan pesawat jet,
yaitu sekitar 800 km/jam. Semakin dangkal lautnya, kecepatan tsunami
semakin berkurang, yaitu berkisar antara 2 – 5 km/jam.
2) Ketinggian
Tsunami
Ketinggian gelombang Tsunami berbanding
terbalik dengan kecepatanya. Artinya, jika kecapatan tsunami besar,
tetapi ketinggian gelombang tsunami hanya beberapa puluh centimeter saja.
Sebaliknya untuk di daerah pantai, kecepatan tsunaminya kecil, sedangkan
ketinggian gelombangnya cukup tinggi, bisa mencapai puluhan meter.
Ketinggian
tsunami di pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
bentuk pantainya. Ada 2
(dua) bentuk pantai yaitu :
a) Pantainya terjal
Bentuk
pantai seperti ini mengakibatkan bagian utama dari energi tsunami dipantulkan
oleh slope (pembatas). Sehingga pemantulannya secara utuh mengikuti
periode tsunami, tanpa pecah. Tinggi gelombang yang gelombang yang
dihasilkan antara 1 – 2 meter.
b) Pantainya Landai
Bentuk pantai ini
mengakibtkan energi tsunami akan dinaikkan oleh pantai, disini berlaku
prinsip dasar energi, yakni energi selalu konstan. Sehingga jika kecepatannya
berkurang maka amplitudonya besar, panjang gelombangnya berkurang dan
mengakibatkan pecahnya gelombang. Hal inilah yang mengakibatkan tinggi
gelombang tsunami bisa mencapai puluhan meter.
2.5 Tanda-tanda Terjadi Tsunami
Tanda-tanda
akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah :
1.
Air laut yang surut secara
tiba-tiba.
2.
Bau asin yang sangat menyengat.
3.
Dari kejauhan tampak gelombang
putih dan suara gemuruh yang sangat keras
4.
Keberadaan hewan-hewan lain
2.6 Persiapan
Mengahdapi Tsunami
1) Mengetahui
pusat informasi bencana, seperti Posko Bencana, Palang Merah Indonesia, Tim
SAR. Kenali areal rumah, sekolah, tempat kerja, atau tempat lain yang beresiko.
Mengetahui wilayah dataran tinggi dan dataran rendah yang beresiko terkena
Tsunami.
2) Jika
melakukan perjalanan ke wilayah rawan Tsunami, kenali hotel, motel, dan carilah
pusat pengungsian. Adalah penting mengetahui rute jalan keluar yang ditunjuk
setelah peringatan dikeluarkan.
3) Siapkan
kotak Persediaan Pengungsian dalam suatu tempat yang mudah dibawa (ransel
punggung), di dekat pintu.
4) Siapkan
peersediaan makanan dan air minum untuk pengungsian.
5) Siapkan
selalu peralatan P3K lengkap.
6) Membawa
barang secukupnya saja untuk keperluan pengungsian.
7) Segera
mengungsi setelah ada pemberitahuan dari pihak yang berwenang atas penyebaran
informasi tentang tsunami.
8) Jika
hanya ada sedikit waktu sebelum datang tsunami,segera mencari pintu dan mencari
jalan keluar dari rumah atau gedung dengan segera.
9) Carilah
tempat yang tinggi dan aman dari gelombang tsunami,atau mengikuti rute dan
tempat yang suah ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
10) Utamakan
keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda
berada,bila ingin menyelamatkan harta benda carilah yang mudah dan ringan
dibawa.
11) Pastikan
tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi.
Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama.
12) Jika tsunami terjadi pada saat Anda sedang
menyetir kendaraan, cepat keluar dan cari tempat yang tinggi dan aman.
13) Setelah Terjadi Tsunami, Periksa kesediaan
makanan. Makanan apapun yang terkena air mungkin sudah tercemar dan harus
dibuang.
14) Memberikan bantuan kepada korban luka-luka.
Berikan bantuan P3K dan panggil bantuan. Jangan pindahkan orang yang terluka,
kecuali yang luka serius.
15) Segera
membangun tenda pengungsian apabila keadaan untuk kembali ke rumah tidak
memungkinkan.
16) Pastikan keadaan sudah aman dan tidak terjadi
tsunami susulan sebelum kembali ke rumah.Bila keadaan rumah tidak memungkinkan
untuk ditempati carilah tempat tinggal yang bisa ditempati atau kembali ke
tempat pengungsian.
2.7 Dampak
Tsunami
a. dampak positif
· Menjalin
kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana tsunami, menimbulkan
efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain.
· Kita
dapat mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan kita serta
kelemahannya dan kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila
bencana tsunami datang kembali tetapi dengan konstruksi yang lebih baik.
b. dampak negatif
·
Banyak tenaga kerja ahli
yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari lagi tenaga ahli yang sesuai
dalam bidang pekerjaannya
·
Banyaknya sarana dan
prasarana rusak, serta bangunan-bangunan yang hancur
·
Pemerintah akan kewalahan
dalam pelaksanaan pembangunan pasca bencana dikarenakan factor dana yang besar
·
Menambah tingkat kemiskinan
apabila ada masyarakat korban bencana yang kehilangan seluruh hartanya
2.8 Mitigasi Tsunami
Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam
lainnya, sangat diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam,
merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, dan mempersiapkan daerah
yang terancam untuk mengurangi dampak negatif dari bahaya tersebut. Ketiga
langkah penting tersebut: 1) penilaian bahaya(hazard assessment), 2) peringatan (warning), dan 3) persiapan (preparedness) adalah unsur utama model
mitigasi. Unsur kunci lainnya yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi
tetapi sangat mendukung adalah penelitian yang
terkait (tsunami-related research).
Langkah-langkah mitigasinya:
Langkah-langkah mitigasinya:
1) Menerbitkan
peta wilayah rawan bencana
2) Memasang
rambu-rambu peringatan bahaya dan larangandi wilayah rawan bencana
3) Mengembangkan
sumber daya manusia satuan pelaksana
4) Mengadakan
pelatihan penanggulangan bencana kepada masyarakat di wilayah rawan bencana
5) Mengadaka
penyuluhan atas upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat di wilayah rawan
bencana
6) Menyiapkan
tempat penampungan sementara di jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana
7) Memindahkan
masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana ke tempat yang aman
8) Membuat
banguna untuk mengurangi dampak bencana
9) Membentuk
pos-pos siaga bencana
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Dari uraian makalah di atas dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :
·
Tsunami adalah gelombang laut yang
disebabkan oleh gempa bumi , tanah longsor atau letusan gunung berapi yang
terjadi di laut, serta jatuhnya meteor ke laut.
·
Terjadinya Tsunami diakibatkan
oleh adanya gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air meluap ke
daratan, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun
meteor yang jatuh ke bumi. Namun, sebagian besar tsunami diakibatkan oleh
gempa bumi bawah laut.
·
Dampak Tsunami sebagian besar
membawa pengaruh negatif dan mengakibatkan kerusakan parah, serta banyak
menelan korban jiwa dan harta benda sehingga perlu adanya upaya untuk
menghadapi tsunami baik dalam keadaan waspada,persiapan,saat terjadi tsunami
dan setelah terjadi tsunami, agar tingkat kerugian baik harta maupun korban
jiwa dapat diminimalisir.
3.2 Saran
Untuk mengantisipasi datangnya tsunami yang
sampai saat ini belum bisa diprediksikan dengan tepat kapan dan dimana akan
terjadi maka dapat dilakukan beberapa langkah sebagai berikut :
·
Selalu waspada dan memantau dengan
aktif informasi tentang bahaya tsunami dari pihak yang berwenang terhadap
adanya potensi tsunami terutama penduduk yang bermukim didekat pantai.
·
Menentukan tempat-tempat
berlindung yang tinggi dan aman jika terjadi tsunami.
·
Menyediakan persediaan makanan dan
air minum untuk keperluan darurat dan pengungsian.
·
Menyiapkan tas ransel yang berisi
(atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian
seperti perlengkapan P3K atau obat-obatan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar