iklan

Senin, 01 Juli 2019

Penilaian Ranah Kognitif C1 sampai C6


Indikator kognitif proses merupakan perilaku (behavior) siswa yang diharapkan muncul setelah melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Perilaku ini sejalan dengan keterampilan proses sains, tetapi yang karakteristiknya untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa. Indikator kognitif produk berkaitan dengan perilaku siswa yang diharapkan tumbuh untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Indikator kognitif produk disusun dengan menggunakan kata kerja operasional (terlampir) aspek kognitif. Obyek dari indicator adalah produk IPA misalnya konsep, hukum, kaidah dll.
1)             Pengetahuan (C1)
Ranah C1 yang dinilai yaitu: Mengutip, Menyebutkan, Menjelaskan, Menggambar, Membilang, Mengidentifikasi, Mendaftar, Menunjukkan, Memberi label, Memberi indeks, Memasangkan, Menamai, Menandai, Membaca, Menyadari, Menghafal, Meniru, Mencatat, Mengulang, Mereproduksi, Meninjau, Memilih, Menyatakan, Mempelajari, Mentabulasi, Memberi kode, Menelusuri, Menulis
2)             Pemahaman (C2)
Ranah C2 yang dinilai yaitu: Memperkirakan, Menjelaskan, Mengkategorikan, Mencirikan, Merinci, Mengasosiasikan, Membandingkan, Menghitung, Mengkontraskan, Mengubah, Mempertahankan, Menguraikan, Menjalin, Membedakan, Mendiskusikan, Menggali, Mencontohkan, Menerangkan, Mengemukakan, Mempolakan, Memperluas, Menyimpulkan, Meramalkan, Merangkum, Menjabarkan
3)             Penerapan (C3)
Ranah C3 yang dinilai yaitu: Menugaskan, Mengurutkan, Menerapkan, Menyesuaikan, Mengkalkulasi, Memodifikasi, Mengklasifikasi, Menghitung, Membangun , Membiasakan, Mencegah, Menentukan, Menggambarkan, Menggunakan, Menilai, Melatih, Menggali, Mengemukakan, Mengadaptasi, Menyelidiki, Mengoperasikan, Mempersoalkan, Mengkonsepkan, Melaksanakan, Meramalkan, Memproduksi, Memproses, Mengaitkan, Menyusun, Mensimulasikan, Memecahkan, Melakukan, Mentabulasi, Memproses, Meramalkan
4)             Analisis (C4)
Ranah C4 yang dinilai yaitu Menganalisis, Mengaudit, Memecahkan, Menegaskan, Mendeteksi, Mendiagnosis, Menyeleksi, Merinci, Menominasikan, Mendiagramkan, Megkorelasikan, Merasionalkan, Menguji, Mencerahkan, Menjelajah, Membagankan, Menyimpulkan, Menemukan, Menelaah, Memaksimalkan, Memerintahkan, Mengedit, Mengaitkan, Memilih, Mengukur, Melatih, Mentransfer
5)             Sintesis (C5)
Ranah C5 yang dinilai yaitu Mengabstraksi, Mengatur, Menganimasi, Mengumpulkan, Mengkategorikan, Mengkode, Mengombinasikan, Menyusun, Mengarang, Membangun, Menanggulangi, Menghubungkan, Menciptakan, Mengkreasikan, Mengoreksi, Merancang, Merencanakan, Mendikte, Meningkatkan, Memperjelas, Memfasilitasi, Membentuk, Merumuskan, Menggeneralisasi, Menggabungkan, Memadukan, Membatas, Mereparasi, Menampilkan, Menyiapkan Memproduksi, Merangkum, Merekonstruksi
6)             Penerapan (C6)
Ranah C6 yang dinilai yaitu: Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengarahkan, Mengkritik, Menimbang, Memutuskan, Memisahkan, Memprediksi, Memperjelas, Menugaskan, Menafsirkan, Mempertahankan, Memerinci, Mengukur, Merangkum, Membuktikan, Memvalidasi, Mengetes, Mendukung, Memilih, Memproyeksikan

Kamis, 13 Juni 2019

Perencanaan Pembelajaran


Proses Perencanaan Pembelajaran
            Proses perencaan pembelajaran meliputi 3 tahapan yang telah di atur oleh kurikulum. Tahapan tersebut adalah,
1)             Tahap perencanaan, meliputi:
1.         Menciptakan atau mengadakan badan atau bagian yang bertugas dalam melaksanakan fungsi perencanaan
2.         Menetapkan prosedur perencanaan
3.         Mengadakan reorganisasi struktural internal administrasi agar dapat berpartisipasi dalam proses implementasinya
4.         Menetapkan mekanisme serta prosedur untuk mengumpulkan dan menganalisa data yang akan diperlukan dalam perencanaan
2) Tahap perencanaan awal
Membandingkan output yang diharapkan dengan apa yang telah dicapai sekarang untuk mengetahui apakah rencana yang dilaksanakan relevan, efektif dan efesien.
3)                  Tahap formulasi rencana, meliputi:
1.      Menyiapkan seperangkat keputusan yang diambil oleh pemegang otoritas
2.      Menyediakan pola dasar pelaksanaan yang menjadi pegangan berbagai unit organisasi yang bertanggung jawab dalam implementasi keputusan
4)                  Tahap elaborasi rencana, meliputi:
1.        Membuat program
Membagi rencana kedalam beberapa program pelaksanaan dengan tujuan spesifikasi masing-masing
2.        Identifikasi dan formulasi proyek
Program terbagi dalam beberapa proyek yang diidentifikasikan secara tuntas agar dapat dilaksanakan. Formulasi proyek merupakan tugas merinci siapa pelaksana, berapa biaya, jangka waktu, dan hal-hal yang dianggap perlu
5)                  Tahap implementasi rencana
Pada saat ini perencanaan bergabung dengan proses pelaksanaan atau menajemennya. Sumber-sumber daya manusia, dana, dan materil dialokasikan, jadwal dan waktu ditetapkan, pelaksanaan proyek, pemberian tugas dan sebagainya

6)             Tahap evaluasi dan perencanaan ulang
Evaluasi memberikan 2 makna: 1) Memberikan gambaran tentang kelemahan rencana; 2) Sebagai bahan diagnosis dan sebagai bahan dalam membuat rencana ulang.

Kamis, 23 Mei 2019

Pengertian Perencanaan Pembelajaran


Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Semua guru tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya perencanaan pembelajaran. Perencanaan Pembelajaran terdiri dari dua kata yaitu “perencanaan” berasal dari kata rencana yang artinya pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan yang kedua adalah pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya dengan “pengajaran” yang artinya upaya untuk membelajarkan peserta didik. Menurut Muhaimin (2001, 183) kata pembelajaran lebih tepat digunakan karena menggambarkan upaya untuk membangkitkan prakarsa belajar seseorang.
Kata pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkapkan hakikat desain pembelajaran. Lebih lanjut menurut Wina Sanjaya (2008:26) Pembelajaran adalah terjemahan dari “Intruction”, kata yang sering diambil dalam pendidikan di Amerika. Jadi Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan peserta didik dalam memanfaatkan semua potensi dan sumber yang ada baik dari dalam diri peserta didik maupun dari luar peserta didik untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Lebih lanjut, menurut Brigss dalam suprihartiningrum (2013:108) menyatakan bahwa pembelajaran mengandung makna sebagai cara yang dipakai oleh pengajar, perancang media dan ahli kurikulum yang ditunjukkan untuk mengembangkan rencana yang terorganisasi guna keperluan dalam belajar.
Hamzah (2006:2) perencanaan pembelajaran adalah “suatu cara yang mememuaskan untuk membuat kegiatan berjalan dengan baik disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang ditetapkan”. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah ide atau pemikiran yang dirancang sesuai dengan kurikulum, silabus, kompetensi inti dan kompetensi dasar sebelum melaksanakan pembelajaran dimulai.
Pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik. Itulah sebabnya peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan guru, tetapi memungkin berinteraksi dengan semua sumber belajar yang dipakai untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Menurut Supriadie (2012:9) pembelajaran adalah suatu konsepsi dari dua dimensi kegiatan (belajar mengajar) yang harus direncanakan dan diaktualisasikan, serta diarahkan pada pencapaian tujuan atau penguasaan sejumlah kompentensi dan indikatornya sebagai gambaran hasil belajar. Oleh karena itu pembelajaran memusatkan pada bagaimana membelajarkan peserta didik dan bukan pada apa yang dipelajari peserta didik. Adapun perhatian terhadap apa yang dipelajari peserta didik merupakan bidang kajian dari kurikulum yakni mengenai apa isi dari pembelajran yang harus dipelajari peserta didik agar tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini perencanaan pembelajaran memiliki 4 unsur yaitu: (1)Adanya tujuan yang harus dicapai, (2) Adanya strategi untuk mencapai tujuan, (3) Sumber daya yang dapat mendukung, (4) Implementasi setiap keputusan.
Menurut Muslich komponen terpenting pada perencanaan pembelajaran diarahkan pada lima aspek, yaitu a) perumusan tujuan pembelajaran; b) pemilihan dan pengorganisasian materi ajar; c) pemilihan sumber belajar/media pembelajaran; d)skenario/kegiatan pembelajaran; e) penilaian hasil belajar.

Kamis, 17 Januari 2019

Pengertian Kebakaran dan Penyebab Terjadinya


Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi dengan ketiga unsur (bahan bakar, oksigen dan panas) yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda atau cidera bahkan sampai kematian (Karla, 2007; NFPA, 1986). Menurut Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), Kebakaran adalah suatu peristiwa bencana yang berasal dari api yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan kerugian, baik kerrugian materi (berupa harta benda, bangunan fisik, deposit/asuransi, fasilitas sarana dan prasarana, dan lain-lain) hingga kehilangan nyawa atau cacat tubuh yang di timbulkan akibat kebakaran tersebut.
Sifat kebakaran seperti dijelaskan dalam bahan keselamatan kerja penanggulangan kebakaran (1987) adalah terjadi secara tidak terduga, tidak akan padam apabila tidak di padamkan, dan kebakaran akan padam dengan sendirinya apabila konsentrasi keseimbanagan hubungan tiga unsur dalam segitiga api tidak terpenuhi lagi.
Menurut Agus Triyono (2001), kebakaran terjadi karena manusia, peristiwa alam, penyalaan sendiri dan unsur kesengajaan.

a.       Kebakaran karena manusia yang bersifat kelalaian, seperti:
·         Kurangnya pengertian, pengetahuan tantang penanggulangan bahaya kebakaran.
·         Kurangnya hati-hati dalam menggunakan alat ataau bahan yang dapat menimbulkan api.
b.      Kebakaran karena peristiwa alam terutama menyangkut cuaca dan gunung berapi, seperti sinar matahari, letussan gunung berapi, gempa bumi, petir, angina dan topan.
c.       Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang-gudang bahan kimia dimana bahan-bahan tersebut bereaksi dengan udara, air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar.
d.      Kebakaran karena unsur kesengajaan, untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya:
·         Sabotase untuk menimbulkan huru-hara, kebanyakan dengan alasan politis.
·         Mencari keuntungan pribadi karena ingin mendapatkan ganti rugi melalui asuransi kebakaran.
·         Untuk menghilangkan jejak kejahatan dengan cara membakar dokumen atau bukti-bukti yang dapat memberatkannya.



Jumat, 04 Januari 2019

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN KURIKULUM


5.1  Pengertian dan Perkembangan Kurikulum
Kurikulum adalah hal yang sangat sering didengar di dunia pendidikan. Menurut Syaodih dkk (2000) Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam kamus Webster's tahun 1857, secara gamblang kurikulum diartikan sebagai rancangan sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk naik kelas atau mendapatkan ijazah (menyelesaikan studinya).

UU No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat (19), kontitusi menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan :
1.      Peningkatan iman dan takwa;
2.      Peningkatan akhlak mulia;
3.      Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
4.      Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
5.      Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
6.      Tuntutan dunia kerja;
7.      Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
8.      Agama;
9.      Dinamika perkembangan global; dan
10.  Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Di Indonesia sendiri sudah 11 x adanya perubahan kurikulum dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum tersebut ada yang disempurnakan namun ada juga yang diganti, yaitu:
1)             Kurikulum 1947, dikatakan sebagai Rencana Pelajaran Terurai Sekolah Dasar yang dalam Bahasa Belanda di sebut Leer Plan.
2)             Tahun 1964, Pemerintah menyempurnakan Kurikulum 1947 dan namanya diganti menjadi Kurikulum Rencana Pendidikan Sekolah Dasar 1964.
3)             Tahun 1968, Pemerintah menyempurnakan Kurikulum 1964 dengan Kurikulum baru yaitu Kurikulum 1968. Tujuan dari pembentukan kurikulum 1968 adalah untuk membentuk manusia pancasilais sejati, sehat jasmani, kuat, mempertinggi kecerdasan dan moral, budi pekerti serta menghargai keyakinan beragama.
4)             Kurikulum 1973, dengan kata lain Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), kurikulum ini tidak bertahan lama dikarenakan pembiayaan pendidikan yang terlalu mahal sehingga tidak layak untuk didesiminasikan secara nasional.
5)             Kurikulum 1975, Kurikulum ini menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif, dengan di pengaruhi oleh bidang Manajemen yaitu Manajemen by objective.
6)             Kurikulum 1984 dengan nama Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah Kurikulum yang cara belajarnya di dapatkan dari pengalaman, dengan harapan agar pengetahuan yang di dapatkan lewat pengalaman tetap akan di ingat.
7)             Kurikulum 1994, yaitu dengan pembagian waktunya dalam satu tahun menjadi 3 periode atau dari semester ke caturwulan.
8)             Kurikulum 1999 (Penyempurnaan kurikulum 1994) dalam kurikulum ini pembelajarannya adalah mengembangkan pengetahuan (Kognitif), keterampilan (Psikomotorik) dan sikap (Afektif).
9)             Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum 2004 merupakan embrio dari Kurikulum 2006. yang diberikan hak kepada sekolah untuk mengembangkan Kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah dan kebutuhan anak didik (di berlakuan ketika otonomi daerah).
10)         Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). prinsip pengembangan Kurikulum 2006 yang di katakan oleh Depdiknas (2006) perpusat pada : (Pertama) Potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan, (Kedua) Beragam dan terpadu, (Ketiga) Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, (Ke-empat) Relevan dengan kebutuhan kehidupan, (Kelima) Univer dan kontinyu, (Ke-enam) Belajar sepanjang hayat, (Ketujuh) Seimbang antara kepentingan Nasional dan Daerah dalam rangka membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
11)         Kurikulum 2013 Berbasi Kompetensi, berbicara tentang pembentukan karakter berbasis kompetensi pengetahuan dalam menanamkan nilai keilllahian (value transenden) dan mewujudkan attitude yang behavior akhlaktul kharimah.
Perkembangan kurikulum adalah salah satu cara untuk memajukan dunia pendidikan dan memperoleh sumber daya manusia yang siap bersaing di era perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh karenanya, guru harus kreatif dalam menerapkan suatu kurikulum pendidikan.

Jumat, 28 Desember 2018

Think Pair Share



LANDASAN TEORI

2.1 Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share
2.1.1 Model Kooperatif Think Pair Share
            Proses belajar selalu menggunakan metode dan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah TPS. TPS dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang mengutamakan berpikir (think), berpasangan (pair) dan berbagi (share). Menurut Elhefni (2011) Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bekerja sama dengan orang lain (kelompok) dan diberi kesempatan untuk berbagi jawaban yang paling benar. Model think pair share ini dapat mendorong peserta didik bersemangat dalam bekerja sama.

2.1.2 Tujuan Model Kooperatif Think Pair Share
            Tujuan dari model pembelajaran kooperatif think pair share menurut Ibrahim, dkk (dalam hosnan 2014:239) adalah sebagai berikut:
  •  Meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu peserta didik untuk memahami konsep-konsep yang sulit.
  •  Dapat diterima secara luas oleh orang yang berbeda latar belakang (ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuan memahami). Dengan pembelajaran kooperatif peserta didik dari latar belakang yang berbeda berpikir dan bekerjasama melalui struktur penghargaan kooperatif dan belajar menghargai satu sama lain.
  • Mengajarkan kepada peserta didik untuk terampil dalam bekerjasama. Keterampilan kerjasama penting, dikarenakan semua hal (kerjasama, berbicara, menulis) akan digunakan dalam kehidupan nyata.


2.1.3 Indikator Model Kooperatif Think Pair Share
            Menurut Hosnan (2014:245) ada enam indikator dalam dalam pembelajaran Kooperatif, yaitu:
Tabel 2.1 Sintaks model pembelajaran Think Pair Share
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi peserta didik
2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada peserta didik
3
Mengorganisasikan peserta didik kedalam kelompok-kelompok belajar
Guru mengimformasikan pengelompokan kepada peserta didik
4
Membimbing kelompok belajar
Guru memotivasi peserta didik serta memfasilitasi dalam kelompok-kelompok belajar
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dilaksanakan
6
Memberikan penghargaan
Guru memberikan penghargaan kepada individu maupun kelompok

Alur pembelajaran dan tahapan rencana pelaksanaan pembelajaran akan mengikuti sintaks think pair share pada Tabel 2.1, dengan 6 tahapan.

2.1.4 Langkah-langkah Model Kooperatif Think Pair Share
            Model pembelajaran TPS mempunyai tujuh langkah yang dapat dijadikan pegangan dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1)                 Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2)                 Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3)                 Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4)                 Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
5)                 Membicarakan dan mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan dan menambahkan materi yang belum diungkapkan oleh peserta didik
6)                 Guru membuat kesimpulan
7)                 Penutup
2.1.5 Perbedaan Kelompok Belajar Konvensioanal dan Kooperatif TPS
            Pembelajaran kooperatif berbeda dengan model belajar konvensional. Menurut Hosnan (2014:246)           ada tiga hal yal yang membedakan antara pembelajaran kooperatif dengan belajar konvensional.
Tabel 2.2 Perbedaan Kelompok Belajar Konvensioanal dan Kooperatif TPS
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Kooperatif
Guru sering membiarkan adanya peserta didik yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong” 
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
Kelompok belajar biasanya homogen
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

2.1.5 Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Think Pair Share
            Setiap model pembelajaran akan ada kelebihan dan kelemahan. Model pembelajaran kooperatif think pair share. Menurut Lie (2008:86) kelebihan dan kekurangan model kooperatif think pair share adalah:
1)        Kelebihan
1.    Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses belajar
2.    Peserta didik dituntut untuk bertanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok
3.    Hasil belajar kelompok ditentukan oleh hasil individual
4.    Cocok digunakan untuk tugas sederhana tidak perlu praktikum
5.    Memberikan lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk berkontribusi dalam kelompok
6.    Interaksi antar pasangan lebih mudah, dikarenakan anggota kelompok tidak banyak
7.    Pemahaman peserta didik dalam memahami bacaan akan lebih mendalam
8.    Lebih mudah dan cepat dalam membentuk kelompok
9.    Peserta didik dapat kesempatan untuk menggali lebih banyak ide
2)        Kekurangan
1.      Lebih sedikit ide yang muncul karena hanya 2 orang perkelompok
2.      Butuh banyak waktu untuk mengontrol kelompok
3.      Jika terjadi masalah dalam kelompok tidak ada penengah selain guru.

kelebihan dan kekurangan komik sebagai media pembelajaran

Kelebihan dan kekurangan Komik Menurut Rohani (1997:21) Media komik merupakan media yang mempunyai sifat sederhana, jelas, mudah dipahami,...