iklan

Kamis, 17 Januari 2019

Pengertian Kebakaran dan Penyebab Terjadinya


Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi dengan ketiga unsur (bahan bakar, oksigen dan panas) yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda atau cidera bahkan sampai kematian (Karla, 2007; NFPA, 1986). Menurut Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), Kebakaran adalah suatu peristiwa bencana yang berasal dari api yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan kerugian, baik kerrugian materi (berupa harta benda, bangunan fisik, deposit/asuransi, fasilitas sarana dan prasarana, dan lain-lain) hingga kehilangan nyawa atau cacat tubuh yang di timbulkan akibat kebakaran tersebut.
Sifat kebakaran seperti dijelaskan dalam bahan keselamatan kerja penanggulangan kebakaran (1987) adalah terjadi secara tidak terduga, tidak akan padam apabila tidak di padamkan, dan kebakaran akan padam dengan sendirinya apabila konsentrasi keseimbanagan hubungan tiga unsur dalam segitiga api tidak terpenuhi lagi.
Menurut Agus Triyono (2001), kebakaran terjadi karena manusia, peristiwa alam, penyalaan sendiri dan unsur kesengajaan.

a.       Kebakaran karena manusia yang bersifat kelalaian, seperti:
·         Kurangnya pengertian, pengetahuan tantang penanggulangan bahaya kebakaran.
·         Kurangnya hati-hati dalam menggunakan alat ataau bahan yang dapat menimbulkan api.
b.      Kebakaran karena peristiwa alam terutama menyangkut cuaca dan gunung berapi, seperti sinar matahari, letussan gunung berapi, gempa bumi, petir, angina dan topan.
c.       Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang-gudang bahan kimia dimana bahan-bahan tersebut bereaksi dengan udara, air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar.
d.      Kebakaran karena unsur kesengajaan, untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya:
·         Sabotase untuk menimbulkan huru-hara, kebanyakan dengan alasan politis.
·         Mencari keuntungan pribadi karena ingin mendapatkan ganti rugi melalui asuransi kebakaran.
·         Untuk menghilangkan jejak kejahatan dengan cara membakar dokumen atau bukti-bukti yang dapat memberatkannya.



Jumat, 04 Januari 2019

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN KURIKULUM


5.1  Pengertian dan Perkembangan Kurikulum
Kurikulum adalah hal yang sangat sering didengar di dunia pendidikan. Menurut Syaodih dkk (2000) Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam kamus Webster's tahun 1857, secara gamblang kurikulum diartikan sebagai rancangan sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk naik kelas atau mendapatkan ijazah (menyelesaikan studinya).

UU No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat (19), kontitusi menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan :
1.      Peningkatan iman dan takwa;
2.      Peningkatan akhlak mulia;
3.      Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
4.      Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
5.      Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
6.      Tuntutan dunia kerja;
7.      Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
8.      Agama;
9.      Dinamika perkembangan global; dan
10.  Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Di Indonesia sendiri sudah 11 x adanya perubahan kurikulum dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum tersebut ada yang disempurnakan namun ada juga yang diganti, yaitu:
1)             Kurikulum 1947, dikatakan sebagai Rencana Pelajaran Terurai Sekolah Dasar yang dalam Bahasa Belanda di sebut Leer Plan.
2)             Tahun 1964, Pemerintah menyempurnakan Kurikulum 1947 dan namanya diganti menjadi Kurikulum Rencana Pendidikan Sekolah Dasar 1964.
3)             Tahun 1968, Pemerintah menyempurnakan Kurikulum 1964 dengan Kurikulum baru yaitu Kurikulum 1968. Tujuan dari pembentukan kurikulum 1968 adalah untuk membentuk manusia pancasilais sejati, sehat jasmani, kuat, mempertinggi kecerdasan dan moral, budi pekerti serta menghargai keyakinan beragama.
4)             Kurikulum 1973, dengan kata lain Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), kurikulum ini tidak bertahan lama dikarenakan pembiayaan pendidikan yang terlalu mahal sehingga tidak layak untuk didesiminasikan secara nasional.
5)             Kurikulum 1975, Kurikulum ini menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif, dengan di pengaruhi oleh bidang Manajemen yaitu Manajemen by objective.
6)             Kurikulum 1984 dengan nama Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) adalah Kurikulum yang cara belajarnya di dapatkan dari pengalaman, dengan harapan agar pengetahuan yang di dapatkan lewat pengalaman tetap akan di ingat.
7)             Kurikulum 1994, yaitu dengan pembagian waktunya dalam satu tahun menjadi 3 periode atau dari semester ke caturwulan.
8)             Kurikulum 1999 (Penyempurnaan kurikulum 1994) dalam kurikulum ini pembelajarannya adalah mengembangkan pengetahuan (Kognitif), keterampilan (Psikomotorik) dan sikap (Afektif).
9)             Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum 2004 merupakan embrio dari Kurikulum 2006. yang diberikan hak kepada sekolah untuk mengembangkan Kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah dan kebutuhan anak didik (di berlakuan ketika otonomi daerah).
10)         Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). prinsip pengembangan Kurikulum 2006 yang di katakan oleh Depdiknas (2006) perpusat pada : (Pertama) Potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan, (Kedua) Beragam dan terpadu, (Ketiga) Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, (Ke-empat) Relevan dengan kebutuhan kehidupan, (Kelima) Univer dan kontinyu, (Ke-enam) Belajar sepanjang hayat, (Ketujuh) Seimbang antara kepentingan Nasional dan Daerah dalam rangka membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
11)         Kurikulum 2013 Berbasi Kompetensi, berbicara tentang pembentukan karakter berbasis kompetensi pengetahuan dalam menanamkan nilai keilllahian (value transenden) dan mewujudkan attitude yang behavior akhlaktul kharimah.
Perkembangan kurikulum adalah salah satu cara untuk memajukan dunia pendidikan dan memperoleh sumber daya manusia yang siap bersaing di era perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh karenanya, guru harus kreatif dalam menerapkan suatu kurikulum pendidikan.

Jumat, 28 Desember 2018

Think Pair Share



LANDASAN TEORI

2.1 Model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share
2.1.1 Model Kooperatif Think Pair Share
            Proses belajar selalu menggunakan metode dan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah TPS. TPS dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang mengutamakan berpikir (think), berpasangan (pair) dan berbagi (share). Menurut Elhefni (2011) Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bekerja sama dengan orang lain (kelompok) dan diberi kesempatan untuk berbagi jawaban yang paling benar. Model think pair share ini dapat mendorong peserta didik bersemangat dalam bekerja sama.

2.1.2 Tujuan Model Kooperatif Think Pair Share
            Tujuan dari model pembelajaran kooperatif think pair share menurut Ibrahim, dkk (dalam hosnan 2014:239) adalah sebagai berikut:
  •  Meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu peserta didik untuk memahami konsep-konsep yang sulit.
  •  Dapat diterima secara luas oleh orang yang berbeda latar belakang (ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuan memahami). Dengan pembelajaran kooperatif peserta didik dari latar belakang yang berbeda berpikir dan bekerjasama melalui struktur penghargaan kooperatif dan belajar menghargai satu sama lain.
  • Mengajarkan kepada peserta didik untuk terampil dalam bekerjasama. Keterampilan kerjasama penting, dikarenakan semua hal (kerjasama, berbicara, menulis) akan digunakan dalam kehidupan nyata.


2.1.3 Indikator Model Kooperatif Think Pair Share
            Menurut Hosnan (2014:245) ada enam indikator dalam dalam pembelajaran Kooperatif, yaitu:
Tabel 2.1 Sintaks model pembelajaran Think Pair Share
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi peserta didik
2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada peserta didik
3
Mengorganisasikan peserta didik kedalam kelompok-kelompok belajar
Guru mengimformasikan pengelompokan kepada peserta didik
4
Membimbing kelompok belajar
Guru memotivasi peserta didik serta memfasilitasi dalam kelompok-kelompok belajar
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dilaksanakan
6
Memberikan penghargaan
Guru memberikan penghargaan kepada individu maupun kelompok

Alur pembelajaran dan tahapan rencana pelaksanaan pembelajaran akan mengikuti sintaks think pair share pada Tabel 2.1, dengan 6 tahapan.

2.1.4 Langkah-langkah Model Kooperatif Think Pair Share
            Model pembelajaran TPS mempunyai tujuh langkah yang dapat dijadikan pegangan dalam proses belajar mengajar, yaitu:
1)                 Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2)                 Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3)                 Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4)                 Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
5)                 Membicarakan dan mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan dan menambahkan materi yang belum diungkapkan oleh peserta didik
6)                 Guru membuat kesimpulan
7)                 Penutup
2.1.5 Perbedaan Kelompok Belajar Konvensioanal dan Kooperatif TPS
            Pembelajaran kooperatif berbeda dengan model belajar konvensional. Menurut Hosnan (2014:246)           ada tiga hal yal yang membedakan antara pembelajaran kooperatif dengan belajar konvensional.
Tabel 2.2 Perbedaan Kelompok Belajar Konvensioanal dan Kooperatif TPS
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Kooperatif
Guru sering membiarkan adanya peserta didik yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong” 
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
Kelompok belajar biasanya homogen
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

2.1.5 Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Think Pair Share
            Setiap model pembelajaran akan ada kelebihan dan kelemahan. Model pembelajaran kooperatif think pair share. Menurut Lie (2008:86) kelebihan dan kekurangan model kooperatif think pair share adalah:
1)        Kelebihan
1.    Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses belajar
2.    Peserta didik dituntut untuk bertanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok
3.    Hasil belajar kelompok ditentukan oleh hasil individual
4.    Cocok digunakan untuk tugas sederhana tidak perlu praktikum
5.    Memberikan lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk berkontribusi dalam kelompok
6.    Interaksi antar pasangan lebih mudah, dikarenakan anggota kelompok tidak banyak
7.    Pemahaman peserta didik dalam memahami bacaan akan lebih mendalam
8.    Lebih mudah dan cepat dalam membentuk kelompok
9.    Peserta didik dapat kesempatan untuk menggali lebih banyak ide
2)        Kekurangan
1.      Lebih sedikit ide yang muncul karena hanya 2 orang perkelompok
2.      Butuh banyak waktu untuk mengontrol kelompok
3.      Jika terjadi masalah dalam kelompok tidak ada penengah selain guru.

Rabu, 19 Desember 2018

LKPD ELASTISITAS SMA


LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
(LKPD)

Nama Sekolah            
Kelas / Semester          : X/ 2
Mata Pelajaran            : Fisika
Materi/menggunakan  : Elastisitas/Alat Laboratorium
Kelompok                   :
Nama Anggota            :
                                    1)...............................................
                                    2)...............................................
                                    3)...............................................
                                    4)...............................................
                                    5)...............................................

A)      Tujuan
1.      Dapat memahami, menganalisis dan menggunakan sifat elastisitas dalam kehidupan sehari
2.      Dapat mengolah dan menyimpulkan hasil percobaan tentang elastisitas
3.      Dapat menyimpulkan makna dari tegangan, regangan, modulus elastisitas, hukum hooke, konstanta pegas dan rangkaian pegas.
B)      Hipotesis
.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
C)      Ekperimen
1)      Alat dan Bahan
1.      Pegas berbagai macam ukuran (masing-masing 1 pasang)
2.      Mistar
3.      Anak timbangan berbagai ukuran
4.      Piringan
5.      Statif
6.      Timbangan

2)      Cara Kerja 1
1.        Ukurlah panjang masing-masing pegas (X0). Tandai pegas 1, pegas 2 dan pegas 3. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
2.        Gantungkan pegas pada statif. Selanjutnya, timbang piring timbangan (Mp) dan pasang pada ujung pegas. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
3.        Timbanglah berat anak timbangan (Mb) 1, 2 dan 3. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
4.        Masukkan anak timbangan 1 pada piring timbangan yang digantungkan pada pegas 1.
5.        Kemudian, ukurlah berapa panjang pegas setelah ada anak timbangan 1. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
6.        Setelah selesai dengan anak timbangan 1, lanjutkan dengan anak timbangan 2 dan 3 dengan cara yang sama.
7.        Setelah selesai dengan pegas yang pertama, gantilah pegas tersebut dengan pegas yang kedua. Masukkan anak timbangan 1 pada piring timbangan yang digantungkan pada pegas 2.
8.        Ukurlah berapa panjang pegas setelah ada anak timbangan 1. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
9.        Setelah selesai dengan pegas kedua dan anak timbangan 1, 2 dan 3, maka lanjutkan dengan pegas ketiga seperti cara sebelumnya hingga selesai


Tabel Hasil Pengamatan Ekperimen Satu
No
X0
X1
Mp
Mb
X0 - X1
Mb - Mp
































































3)      Cara Kerja 2
1.        Ukurlah panjang masing-masing pegas (X0). Tandai pegas 1, pegas 2 dan pegas. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
2.        Ambil dua buah pegas yang ukurannya sama, dan gantungkan kedua pegas tersebut pada statif.
3.        Selanjutnya, timbang piring timbangan (Mp) dan pasang pada kedua ujung pegas. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
4.        Timbanglah berat anak timbangan (Mb) 1, 2 dan 3. Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
5.        Selanjutnya, letakkan anak timbangan pada piring timbangan yang sudah digantungkan pada kedua pegas. Ukurlah perubahan panjang pegas dan Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
6.        Setelah selesai dengan anak timbangan satu, lanjutkan dengan anak timbangan dua. Ukurlah perubahan panjang pegas, setelah diletakkannya anak timbangan 2 dan Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
7.        Selesai dengan anak timbangan 2, lanjutkan dengan anak timbangan 3 sampai dengan selasai.
8.        Kemudian gantilah pegas sepasang pegas satu dengan sepasang pegas dua, gantunglah piring timbangan pada kedua ujung pegas tersebut. Selanjutnya letakkan anak timbanga 1 kedalam piring timbangan.
9.        Ukurlah perubahan panjang pegas dan Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan
10.    Setelah selesai dengan anak timbangan satu, gantilah dengan anak timbangan 2 dan 3. Jangan lupa mencatat hasil pengamatanmu
11.    Lanjutkan praktikum tersebut sampai pada pasangan pegas 3 dengan ketiga anak timbangan sampai selesai dan Catatlah hasil pengamatan mu pada tabel pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan Ekperimen Dua
No
X0
X1
Mp
Mb
X0 - X1
Mb - Mp
































































4)      Pertanyaan
1.        Berdasarkan apa yang telah kamu praktikumkan, apa pengertian elastisitas menurutmu?
2.        Apa yang dapat kamu simpulkan dari percobaan yang telah kamu lakukan tentang elastisitas, tegangan, regangan, modulus elastisitas, hukum hooke, konstanta pegas dan rangkaian pegas!
3.        Berdasarkan percobaan yang kamu lakukan, apa yang dimaksud dengan tegangan dan regangan?

kelebihan dan kekurangan komik sebagai media pembelajaran

Kelebihan dan kekurangan Komik Menurut Rohani (1997:21) Media komik merupakan media yang mempunyai sifat sederhana, jelas, mudah dipahami,...