iklan

Selasa, 01 Agustus 2017

Tsunami

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagian besar dari bumi adalah samudra atau lautan yang dapat mendukung kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi, diantara pulau-pulau yang terpisah satu dengan yang lainnya pasti dikelilingi oleh air. Oleh karenanya pengetahuan mengenai ilmu geologi dan oceanografis tentang samudra dan laut dianggap sangat vital guna kelangsungan hidup penghuninya termasuk manusia.
Di jagat raya ini masih banyak pengetahuan yang belum kita kuasai, termasuk pengetahuan mengenai bencana alam yang ditimbulkan oleh gelombang pasang laut yang besar atau tsunami dan cara memprediksinya. Dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ruang lingkup ilmu kita masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan luasnya jagat raya. Ini juga merupakan bukti bahwa Allah Maha Besar, Maha Kuasa,Maha Mengetahui atas segalanya dan kita tidak sepatutnya sombong dengan pengetahuan kita yang sangat terbatas ini.
Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang dibangkitkan oleh macam-macam gangguan didasar samudera. Tsunami disebabkan oleh macam-macam gangguan berskala besar terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah laut, atau tumbukan benda langit. Tanda-tanda terjadi tsunami sangat beragam, yaitu diantaranya terjadi gempa bumi ditengah laut dengan kekuatan yang besar. Tsunami dapat terjadi apabila dasar laut bergerak secara tiba-tiba dan mengalami perpindahan vertikal. Cara menanggulangi tsunami juga dapat dilakukan dengan cara salah satunya yaitu melaksanakan evakuasi secara instensif.
  
1.2  TUJUAN
Makalah yang kami susun dengan judul Tsunami bertujuan untuk :
1.      Sebagai tugas pada mata kuliah pengetahuan kebencanaan dan lingkungan
2.      Sebagai ilmu pengetahuan dalam mengantisipasi terjadinya bencana Tsunami.

1.3  MANFAAT
Agar kita mengetahui lebih dalam karakteristik dan mekanisme tsunami serta persiapan untuk menghadapi tsunami baik dalam tahap waspada, persiapan, saat terjadi, dan setelah tsunami terjadi.
  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  PENGERTIAN TSUNAMI
Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertical dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh  macam macam gangguan di dasar samudra. Tsunami tidak kelihatan saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin membesar. Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang. Hal ini karena saat mencapai daratan, gelombang ini lebih menyerupai air pasang yang tinggi dari pada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara alami oleh tiupan angin.Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan pasang surut air laut. Karena itu untuk menghilangkan pemahaman yang salah, para ahli menggunakan istilah gelombang laut seismik.
Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu tsu yang berarti pelabuhan, dan nami yang berarti gelombang.
Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh letusan gunung berapi bawah laut, gempa bumi yang berpusat di bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. 
Gelombang tsunami ini dapat merambat ke segala arah. Di laut yang dalam, gelombang tsunami berjalan dengan kecepatan  sampai dengan 1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. 
Ketinggian gelombang di laut yang dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. tapi Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter.
2.2  PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI
Tsunami dapat terjadi jika akibat letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun akibat jatuhnya meteor di laut. paling sering gelombang tsunami terjadi akibat gempa bumi bawah laut. selain itu beberapa tsunami juga diakibatkan oleh gunung meletus, contohnya tsunami yang terjadi ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, menyebabkan dasar laut menjadi naik atau bisa saja turun secara tiba-tiba, akibatnya terjadilah gamngguan pada keseimbangan air laut. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang itu terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang.
Ada beberapa penyebab yang mengakibatkan terjadinya tsunami.  Faktor penyebab terjadinya tsunami itu adalah: 
1.      Gempa bumi yang berpusat dibawah laut, Meskipun demikian tidak semua gempa bumi dibawah laut berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi dibawah laut yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami adalah gempa bumi dengan kriteria sebagai berikut
1)               Gempa bumi yang terjadi di dasar laut.
2)               Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut.
3)               Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR
4)               Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar naik atauturun).


2.      Letusan gunung berapi, letusan gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik. Tsunami besar yang terjadi padatahun 1883 adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda. Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 10-11 April 1815 juga memicu terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan Maluku. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah ring of fire (sabuk berapi) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.

3.      Longsor bawah laut, longsor bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan antara lempeng samudera dan lempeng benua. Proses ini mengakibatkan terjadinya palung laut dan pegunungan. Tsunami karena longsoran bawah laut ini dikenal dengan nama tsunamic submarine landslide.

4.      Hambatan meteor laut, jatuhnya meteor yang berukuran besar di laut juga merupakan penyebab terjadinya tsunami.

2.3 RAMBATAN GELOMBANG TSUNAMI
Kecepatan rambat gelombang tsunami berbeda-beda, tergantung pada kedalaman laut. Di laut dalam, kecepatan rambat tsunami mencapai 500 – 1000 km per jam atau setara dengan kecepatan pesawat terbang namun ketinggian gelombangnya hanya sekitar 1 meter. Ketika gelombang tsunami ini sudah mendekati pantai, kecepatan rambatnya hanya sekitar 30 km per jam, namun ketinggian gelombangnya bisa mencapai puluhan meter. Tsunami bergerak keluar dari daerah sumber sebagai suatu seri gelombang.Kecepatannya tergantung pada kedalaman air, sehingga gelombang tersebut mengalami percepatan atau perlambatan ketika melintasi kedalaman yang berbeda-beda. Proses ini juga menyebabkan perubahan arah rambat sehingga energy gelombang dapat menjadi fokus atau de-fokus. Pada laut dalam, Tsunami memiliki rentang periode (waktu untuk satu siklus gelombang). Periode tsunami cukup bervariasi mulai dari dua menit hingga lebih dari satu jam.
2.4 KARAKTERISTIK TSUNAMI
Beberapa karakteristik Tsunami, antara lain :
1.         Tinggi gelombang tsunami di tengah lautan mencapai lebih kurang 5 meter. Serentak sampai pantai tinggi gelombang ini dapat mencapai 30 meter.
2.         Panjang gelombang tsunami (50-200 km) jauh lebih besar dari pada gelombang pasang laut (50-150 m). Panjang gelombang tsunami ditentukan oleh kekuatan gempa, sebagai contoh gempabumi tsunami dengan kekuatan magnitude 7-9 panjang gelombang tsunami berkisar 20-50 km dengan tinggi gelombang 2 m dari permukaan laut.
3.         Periode waktu gelombang tsunami yang berkekuatan tinggi hanya berperiode durasi gelombang sekitar 10-60 menit, sedangkan gelombang pasang bisa berlangsung lebih lama 12-24 jam.
4.         Cepat rambat gelombang tsunami sangat tergantung pada kedalaman laut, bila kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan berkurang tiga perempatnya. Contohnya, tsunami di laut dalam berkecepatan dahsyat bagai pesawat jet mencapai 400-1000 km/jam. Di kedalaman laut 5.000 m kecepatan tsunami 800 km/jam, kedalaman 10 m kecepatannya 36 km/jam dan sampai di pantai mencapai 25 km/jam.

Berkurangnya kecepatan tsunami berkebalikan dengan tinggi amplitude gelombang tsunami yang semakin bertambah saat memasuki daratan pantai.

  
2.5  TANDA-TANDA AKAN TERJADINYA TSUNAMI
Bencana tsunami biasanya banyak menelan korban nyawa, sehingga perlu ada peringatan dini untuk masyarakat. Meski teknologi sudah bisa memprediksi beberapa bencana tapi tidak ada salahnya mengenali tanda-tanda sebelum bencana terutama tsunami, agar bisa segera mengamankan diri.
Tsunami adalah serangkaian gelombang yang disebabkan oleh tanah longsor atau gempa bumi besar baik yang terjadi di darat maupun di laut. Gelombang tsunami dapat terjadi 5 menit hingga 1 jam setelah longsor atau gempa bumi.
Berikut beberapa tanda-tanda awal datangnya bencana tsunami, seperti dilansir Ehow, Jumat (11/3/2011), yaitu:
2.5.1 Diawali adanya gempa bumi
Bila Anda tinggal di dekat pantai, sebaiknya berhati-hati bila terjadi gempa bumi. Tsunami biasanya terjadi karena adanya gempa bumi yang terjadi di bawah atau di dekat laut. Tidak hanya gempa yang terjadi di daerah Anda, tetapi juga di seluruh dunia. Gempa ribuan kilometer jauhnya dapat menyebabkan potensi tsunami yang mematikan di daerah Anda.
2.5.2  Dengarkan suara-suara gemuruh
Banyak korban tsunami telah mengatakan bahwa datangnya gelombang tsunami akan diawali dengan suara gemuruh yang keras mirip dengan kereta barang.
2.5.3  Perhatikan penurunan air laut
Jika ada penurunan air laut yang cepat dan bukan merupakan waktu air laut surut, maka segeralah mencari tempat perlindungan yang tinggi. Sebelum terjadi gelombang tsunami, air laut akan terlebih dahulu surut dengan cepat dan kemudian kembali dengan kekuatan yang sangat besar.
2.5.4  Selalu waspada pada gelombang pertama
Gelombang tsunami pertama tidak selalu yang paling berbahaya, sehingga tetap mendekatkan diri dari garis pantai sampai keadaaan benar-benar aman. Jangan berasumsi bahwa karena tsunami kecil di satu tempat maka akan kecil juga pada daerah yang lain. Ukuran gelombang tsunami bervariasi dan tidak sama di semua lokasi. Gelombang tsunami juga bisa melakukan perjalanan melalui sungai-sungai yang terhubung ke laut.
Selain tanda-tanda tersebut, alam juga bisa memberi tanda sebelum terjadinya bencana, seperti gerakan angin yang tidak biasa, tekanan udara atau cuaca yang ekstrem dan perilaku hewan yang berubah.
Para ilmuwan berteori bahwa hewan mampu menangkap getaran-getaran atau perubahan tekanan udara di sekitar mereka yang tidak dapat dilakukan manusia.
"Saya tidak berpikir bahwa ini adalah indera keenam, setidaknya tidak ada yang dapat kita ukur pada saat ini," kata Diana Reiss, Ph.D., direktur penelitian mamalia laut di Wildlife Conservation Society, berbasis di Bronx Zoo di New York City, seperti dilansir Foxnews.
Beberapa kelelawar, yang aktif di malam hari dan biasanya tidur di siang hari, menjadi sangat aktif setengah jam sebelum gelombang tsunami datang.
Di Sri Lanka dan Thailand ada sebuah cerita tentang gajah-gajah berlari ke bukit satu jam sebelum tsunami tahun 2004 yang menghancurkan desa dan membunuh hingga 150.000 orang di kedua negara itu.

  
2.6   CARA MENANGGULANGI TSUNAMI
Cara penanggulangan tsunami, yaitu :
1.               Melaksanakan evakuasi secara intensif.
2.               Melaksanakan pengelolaan pengungsi.
3.               Melakukan terus pencarian orang hilang, dan pengumpulan jenazah.
4.               Membuka dan hidupkan jalur logistik dan lakukan resuplay serta pendistribusian logistik yang diperlukan.
5.               Membuka dan memulihkan jaringan komunikasi antar daerah atau kota.
6.               Melakukan pembersihan kota yang hancur dan penuh puing dan lumpur.
7.               Menggunakan dana pemerintah untuk penanggulangan bencana dan gunakan pula dengan tepat sumbangan dana baik dari dalam maupun luar negeri.
8.               Menyambut dengan baik dan libatkan unsur civil society.

2.7     PERSIAPAN MENGHADAPI TSUNAMI
1.                Jika anda tinggal di daerah bahaya. Dapatkan informasi dari posko dan satgas terdekat. Ingat, mereka yang tinggal sekitar satu kilometer dari laut pada daratan di bawah (kurang dari) 15 meter dari permukaan laut mereka berada dalam resiko.
2.            Pilih tempat yang aman utntuk lari. Pastikan setiap anggota keluarga mengetahui cara untuk sampai ketempat tersebut melalui jalan lain. Tempat evakuasi harus berada di atas 15 meter dari permukaan laut, bila mungkin cari yang jauh dari pantai.
3.              Beri latihan kepada anggota keluarga untuk dapat waspada terhadap tanda-tanda peringatan tsunami; getaran kuat pada tanah, gempa bumi, dan naiknya air dari laut dengan tiba-tiba.
4.           Kumpulkan peralatan darurat, termaksud: senter, radio, bateri lebih, P3K, makanan dan air, obat-obatan dan uang.
5.             Simpan air minum yang cukup untuk beberapa hari. Tsunami akan mencemari semua air yang terbuka, sementara tim pembersih air mungkin akan datang terlambat.
6.             Pastikan bahwa anggota keluarga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain di saat ada yang terpisah ketika tsunami. Akan dapat membantu bila memiliki family atau kawan yang tinggal di tempat lain dan saling berhubunggan (melalui telpon).
7.        Kunjungi, sekarang juga, posko atau pusat bencana dan bekali diri anda dengan informasi terbaru tentang bencana tsunami. Berbagilah informasi dengan keluarga anda.

2.8     DAMPAK POSITIF DAN DAMPAK NEGATIF BENCANA TSUNAMI
2.8.1        Dampak positif dari bencana tsunami :
1.     Bencana alam merenggut banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas bagi yang masih hidup.
2.  Menjalin kerjasama dan bahu membahu untuk menolong korban bencana, menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain.
3.    Kita bisa mengetahui sampai dimanakah kekuatan konstruksi bangunan kita serta kelemahannya dan kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila bencana tersebut datang kembali tetapi dengan konstruksi yang lebih baik.

2.8.2        Dampak negatif dari bencana tsunami :
1.      Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit untuk mencari lagi tenaga ahli yang sesuai dalam bidang pekerjaanya.
2.      Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksaan pembangunan pasca bencana karna faktor dana yang besar.
3.      Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana yang ditelantarkan. 

2.9 MITIGASI TSUNAMI
Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan. Mitigasi adalah dasar managemen situasi darurat. Mitigasi dapat didefinisikan sebagai “aksi yang mengurangi atau menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia dan harta-benda” (FEMA, 2000). Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala pihak terkait pada tingkat negara, masyarakat dan individu.  
Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam, merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, dan mempersiapkan daerah yang terancam untuk mengurangi dampak negatif dari bahaya tersebut.
Ketiga langkah penting tersebut:
1) penilaian bahaya (hazard assessment),
2) peringatan (warning), dan
3) persiapan (preparedness) adalah unsur utama model mitigasi.
Unsur kunci lainnya yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi tetapi sangat mendukung adalah penelitian yang terkait (tsunami-related research).
2.9.1 Langkah-langkah mitigasinya:
1.      Menerbitkan peta wilayah rawan bencana.
2.      Memasang rambu-rambu peringatan bahaya dan larangandi wilayah rawan bencana.
3.      Mengembangkan sumber daya manusia satuan pelaksana.
4.      Mengadakan pelatihan penanggulangan bencana kepada masyarakat di wilayah rawan bencana.
5.      Mengadakan penyuluhan atas upaya peningkatan kewaspadaan masyarakat di wilayah rawan bencana.
6.      Menyiapkan tempat penampungan sementara di jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana.
7.      Memindahkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana ke tempat yang aman.
8.      Membuat banguna untuk mengurangi dampak bencana.
9.      Membentuk pos-pos siaga bencana,

2.9.2 Penerapan teknologi informasi terhadap tanda-tanda bencana alam:
1.      Radio komunikasi
Radio komunikasi adalah pilihan mutlak untuk komunikasi di tingkat lokal,terutama bagi satuan tugas pelaksana penaggulangn bencana alam dan penangana pengungsi. Alat ini minimal telah tersebar di seluruh wilayah rawan bencana.
2.      Telepon
Melalui telepon , semua pihak dapat berbagi informasi dan komunikasi dengan mudah karena hampir semua masyarakat mempunyai telepon
3.      Pengeras suara
Pengeras suara merupakan pilihan untuk mengkomunikasikan kondisi kerawanan bencana alam dalamcakupan wilayah yang sangat terbatas
4.      Kentongan
Kentongan adalah alat komunikasi tradisional yang cukup akrab dengan kehidupan masyarakat di berbagai pelosok dikawasa di Indonesia. Isi pesan yang disampaikan melalui tanda kentongan hendaknya singkat dan bermakna. Seperti bunyi kentongan yang berbeda memiliki arti yang berbeda juga.

 2.9.3        Menghindari Dampak Tsunami :
2       Sebelum terjadinya tsunami
1.                  Mengenali apa yang disebut tsunami.
2.                  Memastikan struktur dan letak rumah.
3.                  Jika tinggal atau berada di pantai, segera menjauhi pantai.
4.                  Jika terjadi getaran atau gempa bumi, segera menjauhi pantai.
5.                  Selalu sedia alat komunikasi.

Saat terjadi tsunami
1.                  Bila berada di dalam ruangan, segera keluar untuk menyelamatkan diri.
2.                   Berlari menjauhi pantai.
3.                   Berlari ke tempat yang aman atau tempat lebih tinggi.
    
          Sesudah terjadi tsunami
1.                   Periksa jika ada keluarga yang hilang ataupun yang terluka.
2.                   Minta pertolongan jika ada keluarga yang yang hilang atau terluka.
3.            Jangan berjalan di sekitar daerah tsunami atau pantai, karena kemungkinan terjadi bahaya susulan.


   2.10 WILAYAH YANG RAWAN TERJADI BENCANA TSUNAMI
   2.10.1 Wilayah Yang Rawan Terjadi Bencana Tsunami di Indonesia
Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengidentifikasikan wilayah-wilayah di Indonesia yang rawan tsunami. Sebanyak 19 wilayah. Berikut 19 wilayah di Indonesia yang rawan terjadinya gelombang tsunami:
1.      Aceh ( Pulau Simeulue, Pantai Barat Aceh [Lhok Nga, Calang, Meulaboh], Lhokseumawe).
2.      Sumatera Utara ( Pulau Nias, Pantai Barat Sumatera Utara [ Singkil, Sibolga ]).
3.      Sumatera Barat ( Kepulauan Mentawai, Pantai Barat Sumatera Barat ).
4.      Bengkulu ( Pulau Enggano, Pantai Barat Bengkulu ).
5.      Lampung dan Banten ( Pantai Selatan Lampung, Pantai Barat Banten ).
6.      Jawa Barat Tengah Bagian Selatan ( Pantai Selatan Jawa Barat – Tengah ).
7.      Jawa Timur Bagian Selatan ( Pantai Selatan Jawa Timur ).
8.      Bali ( Pantai Selatan Bali ).
9.      Nusa Tenggara Barat ( Pantai Selatan Lombok, Sumbawa, dan Pantai Utara Bima ).
10.  Nusa Tenggara Timur ( Pantai Utara Flores, Pulau Babi, Pantai Utara Pulau Timur dan Pantai Selatan Sumba ).
11.  Sulawesi Utara ( Manado, Bitung, Sangihe, dan Talaud ).
12.  Sulawesi Tengah – Palu ( Pulau Peleng, Banggai Kepulauan, Luwuk, Palu, Teluk Tomini, Tambu, Mupaga, Toli-toli, Donggala, dan Tojo ).
13.  Sulawesi Selatan ( Bulukumba, Tinambung, dan Majene ).
14.  Sulawesi Tenggara ( Pantai Kendari ).
15.  Maluku Utara ( Sanana, Ternate, Tidore, Halmahera, dan Pulau Obi ).
16.  Maluku Selatan ( Bandanaira, Pulau Seram, Pulau Buru, Pantai Talaga, Pulau Banda, Pulau Kai, dan Pulau Tual ).
17.  Papua Utara ( Yapen, Biak, Supiori, Oranbari, dan Ransiki ).
18.  Kalimantan Selatan Bagian Timur ( Langadai dan Loeri ).
19.  Sangata ( Daerah Sekuran ).


2.10.2 Wilayah Yang Rawan Terjadi Bencana Tsunami di Dunia
1.      Teluk Ise, Jepang (18 Januari 1586)
Gempa berkekuatan 8.2 SR di Teluk Ise, Jepang menyebabkan tsunami yang sangat dahsyat. Gelombang tsunami setinggi 6 meter tersebut menyapu bersih sejumlah kota yang terkena bencana ini. Kota Nagahama merupakan yang terparah, hampir setengah kota ini mengalami kerusakan yang sangat parah. Tsunami Teluk Ise menyebabkan lebih dari 8.000 orang meninggal dunia dan kerusakan materi dalam jumlah besar.

2.      Kepulauan Ryukyu, Jepang (24 April 1771)
Pada tanggal 24 April 1771, gempa berkekuatan 7.4 SR diyakini telah menyebabkan tsunami yang merusak sejumlah besar pulau-pulau di wilayah ini terutama Pulau Ishigaki dan Pulau Miyako. Dikatakan, tinggi gelombang tsunami yang menerjang Pulau Ishigaki yaitu 85,4 meter, tetapi beberapa pendapat lain mengatakan tinggi gelombang tsunami tersebut yaitu 11-15 meter. Tsunami ini menghancurkan kurang lebih 3.137 rumah dan menewaskan hampir 12.000 orang.

3.      Chili Utara (13 Agustus 1868)
Kejadian tsunami disebabkan oleh serangkaian dua gempa bumi yan signifikan, diperkirakan kekuatan gempa tersebut berkekuatan 8,5 SR, lepas pantai Arica, Peru (sekarang Chili). Tinggi gelombang dilaporkan mencapai 21 meter yang berlangsung antara dua dan tiga hari. Sebanyak 25.000 orang meninggal akibat tsunami ini dan menimbulkan kerusakan sebesar US$ 300 juta atau setara dengan Rp 3,4 triliun.

4.      Sanriku, Jepang (15 Juni 1896)
Tsunami terjadi setelah gempa berkekuatan 7,6 SR melanda pantai Sanriku, Jepang. Gelombang tsunami tersebut dilaporkan memiliki ketinggian hingga 38,2 meter. Akibatnya, 11.000 rumah rusak dan sekitar 22.000 orang meninggal dunia.
5.      Nankido, Jepang (28 Oktober 1707)
Gempa berkekuatan 8,4 SR menyebabkan gelombang tsunami setinggi 25 meter yang menerjang pantai Pasifik Kyushu, Shikoku dan Honshin. Sekitar 30.000 bangunan rusak di daerah yang terkena bencana dan diperkirakan 30.000 orang meninggal dunia.

6.      Laut Enshunada, Jepang (20 September 1498)
Kekuatan gempa diperkirakan setidaknya berkekuatan 8,3 SR dan menyebabkan gelombang tsunami di sepanjang pantai Kii, Mikawa, Surugu, Izu dan Sagami. Gelombang yang cukup kuat ini mampu memisahkan Danau Hamana dari laut. Diperkirakan 31.000 orang meninggal akibat tsunami ini.

7.      Krakatau, Indonesia (27 Agustus 1883)
Tsunami yang terjadi di Indonesia pada tanggal 27 Agustus 1883 berkaitan erat dengan letusan Gunung Krakatau. Suara ledakan letusan Krakatau terdengar hingga radius 5.000 kilometer. Letusan dahsyat tersebut menyebabkan gelombang tsunami setinggi 36 meter. Bahkan dilaporkan pantai Bombay di India mendadak surut. Bencana ini menewaskan sekitar 40.000 orang.

8.      Lisbon, Portugal (1 November 1755)
Sebuah gempa berkekuatan 8,5 SR menyebabkan serangkaian tiga gelombang besar yang menghantam kota-kota di sepanjang pantai barat Portugal dan Spanyol selatan. Dilaporkan tinggi gelombang tsunami ini mencapai 30 meter di beberapa tempat. Tsunami ini menewaskan sekitar 60.000 orang di Portugal, Maroko dan Spanyol.

9.      Pantai Timur Jepang ( 11 Maret 2011)
Tsunami dengan kecepatan 800 kilometer per jam dan tinggi gelombang yang mencapai 10 meter menyapu bersih pantai timur Jepang, dan menewaskan lebih dari 18.000 orang. Tsunami dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0 SR yang berpusat di kedalaman 24,4 kilometer. Sekitar 452.000 orang direlokasi ke tempat penampunagn. Badan kepolisian Jepang mengatakan 7.197 orang tewas dan 10.905 orang dinyatakan hilang. Akibat bencana ini, Jepang mengalami kerugian sebesar US$ 235 miliar atau setara dengan Rp 2.600 triliun.

10.  Sumatra, Indonesia (26 Desember 2004)
Tsunami menerjang Aceh dan Kepulauan Nias pada tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini disebabkan oleh gempa berkekuatan 9,1 SR di Samudra Hindia. Selain Indonesia, tsunami juga menghantam Thailand, Sri Lanka, India, dan pesisir timur Afrika. Sekitar 300 ribu orang meninggal dan Aceh menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak tsunami dahsyat ini dengan korban jiwa yang mencapai lebih dari 200 ribu jiwa.

  

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertical dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh  macam macam gangguan di dasar samudra. penyebab yang mengakibatkan terjadinya tsunami gempa bumi yang berpusat dibawah laut, letusan gunung berapi, Longsor bawah laut dan hambatan meteor laut. Kecepatan rambat gelombang tsunami berbeda-beda, tergantung pada kedalaman laut.

3.2  Saran
     Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi khalayak ramai terutama bagi pembaca yang ingin menambah ilmu tentang Tsunami.

Gunung Berapi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Fenomena alam yang terjadi di alam merupakan anugerah dan kuasa dari Tuhan. Tergantung kita menyikapi fenomena tersebut dengan cara yang bagaimana. Semua kejadian yang terjadi di alam telah terjadi secara sistematis, Oleh karena itu manusia yang diberi kelebihan dalam pemahaman, akan menjadi insan cerdas yang dapat memahami setiap gerakan dan perubahan di alam, hal ini dapat menjadi tindakan saling mengerti karena pada hakikatnya manusia dan alam adalah sahabat dan saling membutuhkan. Dan untuk memahami, manusia harus banyak belajar dari segala perubahan yang ada di alam. 
Dan salah satu fenomena alam yang kerap disebut dengan bencana yang harus dipahami dan dipelajari yaitu, Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya daripada suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah mati.

1.2 JUDUL GUNUNG BERAPI
1.3 MANFAAT
Agar masyarakat lebih mampu memahami segala fenomena alam yang terjadi. Dan peristiwa gunung berapi merupakan fenomena alam yang kerap menjadi bencana dengan korban jiwa terbanyak. Oleh karena itu, makalah dan laporan seputar gunung berapi dapat menjadi referensi ilmu agar peningkatan penanggulangan bencana dapat lebih baik lagi kedepannya.     
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN GUNUNG BERAPI
Gunung Berapi adalah sebuah gunung yang memiliki kawah yang berisi magma dari dalam perut bumi.  Gunung Berapi terjadi akibat dari adanya endapan magma dari perut bumi, yang didorong keluar oleh gas, sehingga menimbulkan letusan.  Gunung Berapi Terjadi jika posisi permukaan bumi berada pada pertemuan dua lempeng atau lebih.  Atau sebuah lubang kepundan atau rekahan dalam perut bumi yang menjadi tempat keluarnya cairan magma ke permukaan bumi.   

2.2 TIPE-TIPE GUNUNG BERAPI  
Tipe gunung berapi yaitu bentuk rupa dari gunung berapi, tipe gunung berapi terbagi berdasarkan bentuknya, dan letusannya. 
Tipe gunung berapi berdasarkan bentuknya :
1. Tipe perisai 
Yaitu Berbentuk kerucut dengan lereng landai dan aliran lava panas dari saluran tengah. Daerah persebaran magma luas serta proses pendinginan dan pembekuannya pelan. Gunung berapi yang letusannya mengeluarkan lava yang bersifat encer dan membentuk gunung tersebut, Frekuensi letusan umumnya sedang dan pelan. 
2. Tipe Kubah
Yaitu gunung yang berbentuk kerucut cembung, dengan lereng curam, Lava bersifat kental. Aliran lava yang kental dari saluran pusat mengakibatkan aliran lava lambat dan membentuk lapisan yang tebal.  Proses pendinginan atau pembekuan lava berlangsung cepat, Banyak lava yang membeku di saluran, akibatnya saluran menjadi tertutup. Letusan yang sangat keras dapat terjadi akibat tekanan dari dalam Bumi yang tersumbat. Seluruh bagian puncak gunung api pun dapat hancur dan lenyap seketika.

3. Tipe Maar 
Yaitu gunung api yang membentuk kawah seperti mangkuk dengan lewar kawah relativ lebih besar dari tinggi dinding kawah, lereng yang landai, serta sifat lava kental.
4. Tipe Caldera (Caldera type) 
Yaitu tipe gunung api yang terbentuk karena akibat dari letusan yang sangat besar sehingga bagian atas berbentuk mancung dan membentuk kawah yang lebarnya lebih dari 2 Km.
5. Tipe Strato (strato type, composible volcano type) 
Gunung ini mempunyai bentuk kerucut, berlereng curam, dan luas yang terdiri atas banyak lapisan lava yang terbentuk dari aliran lava yang berulang-ulang. Lava dapat mengalir melalui sisi kerucut. Sifat letusan keras. 
6. Tipe Kubah Lava (Lava dome type) 
Yaitu gunung api yang mengeluarkan material berupa lava, bersifat kental yang membentuk badan gunung api tersebut, lalu emisi berupa asap, debu lembut, dan bau sulfur menyengat kelerengan umumnya simetri, dan Sifat letusan sedang.
 Tipe gunung berapi berdasarkan letusannya, meliputi :
1) Tipe Hawaii
Yaitu, Tipe gunung api yang dicirikan dengan lavanya yang cair dan tipis, dan dalam perkembangannya akan tipe hawai ini akan membentuk tipe gunung api perisai.
2) Tipe Stromboli 
Tipe ini Magmanya sangat cair, ke arah permukaan sering dijumpai letusan pendek yang disertai ledakan. Bahan yang dikeluarkan berupa abu, bom, lapilli dan setengah padatan bongkah lava.
3) Tipe vulkano
Tipe ini mempunyai ciri khas pembentukan awan debu berbentuk bunga kol, karena gas yang ditembakkan ke atas meluas hingga jauh di atas kawah.Tipe ini mempunyai tekanan gas sedang
dan lavanya kurang begitu cair. Disamping mengeluarkan awan debu, tipe ini juga menghasilkan lava.
4) Tipe merapi
Tipe ini dicirikan dengan lavanya yang cair-kental. Dapur magmanya relatif dangkal dan tekanan gas yang agak rendah.  Contoh letusan tipe Merapi di Indonesia adalah Gunung Merapi di Jawa Tengah dengan awan pijarnya yang tertimbun di lerengnya menyebabkan aliran lahar dingin setiap tahun. Contoh yang lain adalah Gunung Galunggung di Jawa Barat.
5) Tipe perret
Yaitu tekanan gas sangat kuat, lavanya bersifat cair, melemparkan kepundan, letusan hingga ketinggian 80 km. 

2.3 PROSES MELETUSNYA GUNUNG BERAPI
Pada dasarnya, gunung berapi terbentuk dari magma, yaitu batuan cair yang terdalam di dalam bumi. Magma terbentuk akibat panasnya suhu di dalam interior bumi. Pada kedalaman tertentu, suhu panas ini sangat tinggi sehingga mampu melelehkan batu-batuan di dalam bumi. Saat batuan ini meleleh, dihasilkanlah gas yang kemudian bercampur dengan magma. Sebagian besar magma terbentuk pada kedalaman 60 hingga 160 km di bawah permukaan bumi. Sebagian lainnya terbentuk pada kedalaman 24 hingga 48 km.
 Magma yang mengandung gas, sedikit demi sedikit naik ke permukaan karena massanya yang lebih ringan dibanding batu-batuan padat di sekelilingnya. Saat magma naik, magma tersebut melelehkan batu-batuan di dekatnya sehingga terbentuklah kabin yang besar pada kedalaman sekitar 3 km dari permukaan. Magma chamber inilah yang merupakan gudang (reservoir) darimana letusan material-material vulkanik berasal.
 Magma yang mengandung gas dalam kabin magma berada dalam kondisi di bawah tekanan batu-batuan berat yang mengelilinginya. Tekanan ini menyebabkan magma meletus atau melelehkan conduit (saluran) pada bagian batuan yang rapuh atau retak. Magma bergerak keluar melalui saluran ini menuju ke permukaan. Saat magma mendekati permukaan, kandungan gas di dalamnya terlepas. Gas dan magma ini bersama-sama meledak dan membentuk lubang yang disebut lubang utama (central vent). Sebagian besar magma dan material vulkanik lainnya kemudian menyembur keluar melalui lubang ini. Setelah semburan berhenti, kawah (crater) yang menyerupai mangkuk biasanya terbentuk pada bagian puncak gunung berapi. Sementara lubang utama terdapat di dasar kawah tersebut.
2.4 BAHAYA GUNUNG BERAPI
1. Leleran lava 
Merupakan cairan lava yang pekat dan panas dapat merusak segala infrastruktur yang dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang dierupsikan gunungapi, komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukup lamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya.
2. Aliran piroklastik (awan panas) 
Dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150 250 km/jam dan jangkauan aliran dapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak di atas air/laut.
3. Jatuhan piroklastik
Terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, pada saat energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan merontokkan daun-daun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.
4.Lahar letusan
Terjadi pada gunung api yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air alam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan lumpur panas.

5. Gas vulkanik beracun
 Umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2 dll, pada konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh
6. Lahar hujan 
Terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 m dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
7. Banjir bandang 
Terjadi akibat longsoran material vulkanik lama pada lereng gunung api karena jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran lumpur disini tidak begitu pekat seperti lahar, tapi cukup membahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai dengan tiba-tiba terjadi aliran lumpur.
8. longsoran 
Vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik ini jarang terjadi di gunungapi secara umum sehingga dalam peta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat Longsoran vulkanik.

2.5 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MELETUSNYA GUNUNG BERAPI
Gunung berapi merupakan gunung yang sewaktu – waktu bisa meletus. Di Indonesia terutama dipulau jawa merupakan daerah yang banyak gunung berapinya. Adanya gunung api ini member pengaruh bagi kehidupan, baik pengaruh positif maupun negatif. 
Berikut merupakan penjelasan dampak positif atau menfaat dari gunung berapi :
A. Gunung api mengeluarkan abu vulkanis yang dapat menyuburkan tanah
B. material gunung api berupa batu, kerikil, dan pasir dapat dimanfaatkan untuk bahan      bangunan
C. Magma yang telah membeku di permukaan bumi menyimpan bermacam material logam atau bahan tambang, seperti emas dan perak
D. Kawasan gunung api bisa di manfaatkan untuk lahan hutan, perkebunan dan pariwisata
Adapun dampak negatif atau kerugian yang disebabkan oleg gunung api adalah
A. Lava pijar yang bercampur air pada kawah gunning api membentuk lahar panas yang dapat meluncur menuruni lereng menghancurkan apaapun tak terkecuali daerah pemukiman.
B. Lava dingin berupa aliran batu, kerikil, dan pasir bertumpuk – tumpuk dipuncak gunung, pada saat tertentu akan meluncur menuruni daerah yang dilalui dan menghancurkan apapun yang ada
C. Apabila gunung berapi dibawah permukaan laut meletus, biasannya diikuti gelombang tsunami
D. Abu vulkanis yang membumbung tinggi keudara atau yang sering disebut wedos gembel dapat mengganggu jalur penerbangan. 

2.6  GUNUNG API YANG AKTIF DIINDONESIA
Gunung Api aktif adalah gunung berapi yang masih terus beraktivitas hingga sekarang. Gunung Api aktif yang ada di Indonesia meliputi :
 2.6.1 Gunung Kelud
Sejak abad ke-15, gunung kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Pada abad ke-20 gunung kelud tercatat meletus pada tahun 1901,1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Letusan pada tahun 1919  memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin yang menyapu pemukiman penduduk. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Lokasi : Jawa Timur, Indonesia, Tinggi 1.731 M
2.6.2 Gunung Merapi
Gunung merapi adalah gunung termuda dari kumpulan gunung berapi dibagian selatan pulau Jawa. Letusan-letusan kecil terjadi tiap dua hingga tiga tahun, dan yang lebih besar sekitar sepuluh hingga lima belas tahun sekali. Letusan-letusan merapi yang dampaknya besar antara lain ditahun  1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan ditahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang. Namun sekali lagi merapi menunjukkan aktivitasnya tepatnya tanggal 6 Oktober 2010 yang menewaskan banyak penduduk  di daerah sekitar merapi. Lokasi : Klaten, Boyolali, Magelang (Jawa Tengah), Sleman (Yogyakarta) Tinggi : 2.968 M

2.6.3 Gunung Galunggung
Gunung galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882. Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan juli 1822 dimana air Cikunir berubah menjadi keruh dan berlumpur. Kemudian pada tanggal 8 Oktober sampai dengan 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak kearah tenggara mengikuti aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4011 jiwa dan menghancurkan 114 desa dengan kerusakan lahan kearah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung. Lokasi : Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Tinggi : 2.168 M.
2.6.4 Gunung Agung 
Gunung Agung terakhir meletus pada 1963 sampai 1964. Dan masih aktif, dengan sebuah kawah besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan abu. Pada tanggal 18 Februari 1962, penduduk setempat mendengar ledakan keras dan melihat awan naek dari kawah gunung Agung. Pada tanggal 17 Maret gunung berapi meletus mengirimka puing-puing 8-10 KM ke udara. Akibatnya menghancurkan banyak desa dan menewaskan sekitar 1500 orang. Dan letusan kedua pada 16 Mei menyebabkan aliran awan panas yang menewaskan 200 penduduk lain. 
Lokasi : Bali, Indonesia, Tinggi : 3.124 M

2.6.5 Gunung Krakatau 
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada diselat sunda antara pulau Jawa dan Sumatera. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (gunung krakatau). Namun keberadaan gunung tersebut telah sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan ini sangat dahsyat, awan panas dan Tsunami yang disebabkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, Tsunami akibat letusan Krakatau adalah yang terdahsyat dikawasan samudera India, suara letusannya terdengar sampai Australia dan Afrika. Daya ledakknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki diakhir perang dunia kedua. Letusan Krakatau mengakibatkan perubahan iklim global, dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanik yang menutupi atmosfer, Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Lokasi : Perairan selat sunda, Indonesia. Tinggi 813M.

  1. Peuet Sague
  2. Argopuro
  3. Kelud
  4. Bandi Api
  5. Bur Ni Telong
  6. Leuser
  7. Arjuno
  8. Serua
  9. Sorikmarapi
  10. Gunung Lurus
  11. Tengger
  12. Nila
  13. Tandikat
  14. Mahameru
  15. Lamongan
  16. Teon
  17. Marapi
  18. Merbabu
  19. Batur
  20. Sirung
  21. Talang
  22. Raung
  23. Gunung Tambora
  24. Iliweng
  25. Kerinci
  26. Semeru
  27. Rinjani
  28. Lewotobi
  29. Sumbing
  30. Sibayak
  31. Gunung Agung
  32. Egon
  33. Kaba
  34. Welirang
  35. Kawah Ijen
  36. Kelimutu
  37. Dempo
  38. Talang
  39. Raung
  40. Tongkoko
  41. Gunung Besar
  42. Singgalang
  43. Semeru
  44. Mahawu
  45. Suoh
  46. Sago
  47. Sangeang Api
  48. Lokon
  49. Krakatau
  50. Talamau
  51. Paluweh
  52. Soputan
  53. Kiaraberes-Gagak
  54. Tandikat
  55. Lereboleng
  56. Awu
  57. Gunung Salak
  58. Pantai Cermin
  59. Lewotolo
  60. Banua Wuhu
  61. Gede
  62. Guntur
  63. Sundoro
  64. Api Siau
  65. Papandayan
  66. Slamet
  67. Iya
  68. Ruang
  69. Galunggung
  70. Tangkuban Perahu
  71. Ebulobo
  72. Dukono
  73. Ciremai
  74. Merapi
  75. Ine Like
  76. Ibu
  77. Bromo
  78. Dieng
  79. Rakanah
  80. Gamkonora
  81. Gamalama
  82. Makian
  83. Una-Una

2.7 GUNUNG API AKTIF DI DUNIA
a) Mauna Loa – Hawaii
Gunung berapi ini berlokasi di kepulauan Hawaii dan diperkiran telah aktif sekitar 700.000 tahun yang lalu atau bisa juga lebih. Erupsi gunung Mauna Loa diketahui terjadi pada tahun 1984. Biasanya lava yang keluar dari gunung ini tidaklah begitu cepat. Namun pada tahun 1950, salah satu dari sekian banyak erupsi yang pernah terjadi, lava yang keluar bergerak dengan sangat cepat. Kemudian lava tersebut berhasil menghancurkan desa Ho'okena Mauka. 
b) Ulawun - Papua Nugini
Gunung Ulawun menjadi satu dari sekian banyak gunung berapi yang paling aktif yang berada di Papua Nugini. Diketahui sebanyak 22 erupsi telah terjadi di gunung ini sejak tahun 1700an. Beberapa tahun inipun gunung Ulawun masih cukup aktif melakukan aktivitasnya. Terdapat beberapa kali Ulawun melakukan letusan-letusan kecil dan memuntahkan sejumlah debu debu dan lava di area sekitar. Dilihat dari karakteristik gunung Ulawun, erupsi pada gunung Ulawun dapat mengakibatkan kerusakan bangunan yang fatal dimana area seluas 100 km2 dapat rusak karenanya.
c) Gunung Nyiragongo - Kongo
Adalah gunung berapi yang paling aktif yang terletak di Kongo, Afrika. Di sekitar kawah gunung, berlokasi beberapa danau lava yang sangat panas. Pada tahun 1977, sebuah retakan terjadi di dinding danau lava. Hal tersebut mengakibatkan lava tumpah keluar, menghancurkan sejumlah pedesaan dan membunuh banyak orang.  Pada tahun 2002, Nyiragongo kembali terjadi erupsi. Dimana erupsi tersebut berhasil merusak kota Goma yang berada tidak jauh dari gunung. Walaupun sudah melakukan evakuasi terhadap warganya, namun masih ada beberapa orang tidak beruntung yang menjadi korban dari erupsi gunung Nyiragongo.
d) Galeras – Kolombia
Gunung Galeros terletak deket dengan perbatasan Ekuador. Para peneliti menilai bahwa gunung berapi ini sudah aktif sejak 1 juta tahun yang lalu. Dimana erupsi pertama tercatat di tahun 1580. Galeros sempat tidur di tahun 1978, namun 10 tahun kemudian pada tahun 1988 Galeros kembali aktif melakukan erupsi. Ketika para peneliti melakukan pertemuan untuk membahas bahaya dari gunung Galeras, terjadi erupsi yang tidak terduga, membunuh 6 ilmuwan dan 3 turis. Sejak tahun 2000, Galeros terus aktif melakukan erupsi tiap tahunnya. Memuntahkan sejumlah besar debu dan lava dan akibat erupsi itu, beberapa daerah merasakan getarannya.
e) Sakurajima - Jepang
Mendapat julukan Vesuvius dari Asia karena aktivitas erupsinya yang cukup sering sama seperti gunung Vesuvius yang berada di Italia. pada awalnya gunung ini berada terpisah dari kepulauan Jepang. Namun hal tersebut berubah ketika erupsi yang terjadi pada tahun 1914. Erupsi tersebut mengeluarkan lava panas yang kemudian berubah menjadi jembatan yang menghubungi gunung Sakurajima dengan Jepang. Setiap tahunnya gunung Sakurajima rajin mengeluarkan letusan-letusan kecil dan mengeluarkan debu ke area sekitar gunung. Sebagai penanggulangan erupsi yang lebih parah, pemerintah Jepang sudah menyiapkan tempat berlindung bagi para warganya.
f) Popocatepetl – Meksiko
Gunung berapi satu ini hampir saja memakan korban sebanyak 41.000 jiwa ketika erupsi terakhinya yang terjadi pada tahun 2000. Untungnya pemerintah melakukan tindakan super cepat dengan mengevakuasi para warganya. Sejak tahun 1519 gunung Popocatepetl tercatat telah melakukan erupsi sebanyak lebih dari 20 kali. Efek dari erupsi gunung Popocatepetl memiliki radius jangkauan yang cukup luas. Dimana dalam area itu hidup sebanyak 9 juta orang yang apabila terjadi erupsi dapat menjatuhkan banyak korban jiwa.
g) Gunung Vesuvius - Italia
Gunung Vesuvius yang berada di timur Naples merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini. Gunung berapi ini juga memiliki sejarah buruk akan letusannya yang terjadi pada tahun 79 Masehi. Dimana saat itu erupsi yang dihasilkan gunung Vesuvius melenyapkan 2 kota Herculaneum dan Pompeii. Terakhir kali gunung ini aktif adalah ketika tahun 1944. Yang menjadikan gunung berapi ini berbahaya juga karena di sekitar gunung berapi ini memiliki kepadatan yang sangat tinggi, sehingga suat saat gunung Vesuvius kembali erupsi dapat menjatuhkan banyak korban jiwa. 
h) Eyjafjallajokull - Islandia
Gunung yang sulit dieja ini merupakan satu dari sekian banyak gunung es yang berada di Islandia. Gunung setinggi 1.666 meter ini selalu tertutup dengan selimut es di bagian puncaknya. Pernah pada tahun 2010 gunung Eyjafjallajokull mengalami erupsi hebat yang efeknya terasa sampai barat dan utara Eropa. Erupsi di beberapa negara tersebut juga menyebabkan sejumlah jadwal penerbangan menjadi terganggu.
i) Yellowstone Caldera – USA
Menjadi gunung berapi paling aktif di dunia nomor 1. Meskipun dibilang masih aktif namun taman nasional Yellowstone Caldera masih bisa menjadi daya tarik bagi para pengunjung entah itu asing maupun lokal. Setidaknya dalam tiap tahunnya, taman nasional Caldera berhasil meraih pengunjung sampai 3 juta orang. Banyak para wisatawan mengatakan bahwa sumber mata air dan juga gleyser di taman nasional ini memiliki pemandangan yang sangat bagus. 640.000 tahun yang lalu, Yellowstone Caldera mengalami erupsi terbesarnya sepanjang sejarah. Diperkirakan oleh pemerintah USA bila gunung berapi ini erupsi kembali, sebanyak 87.000 jiwa orang dipastikan meninggal.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN 
Letusan Gunung Api merupakan salah satu bentuk bencana alam Geologis, Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak kita harapkan datangnya. Sebab jika bencana tersebut datang maka akan mampu merusak segala sesuatu yang ada di sekitar kita, bahkan mampu merenggut jiwa manusia. Gunung meletus merupakan salah satu bencana alam yang mampu menghancurkan suatu daerah yang luas dan menyebabkan kerugian yang besar merupakan proses alami.
Ketika akan meletus dan saat meletus gunung berapi menimbulkan gaya endogen atau getaran gempa. Material-material yang dikeluarkan saat gunung api meletus sangat berbahaya bagi manusia atau makhluk hidup lainnya Material tersebut antara lain lahar, awan panas, batu-batuan. pasir, kerikil, maupun debu.

DAFTAR PUSTAKA

Kusumadinata, K., 1979. Data Dasar Gunung api Indonesia.
Dit. Vulk., Bandung
Prato, Indyo. 2006.  Klasifikasi gunung api aktif Indonesia,
studi kasus dari beberapa letusan gunung api dalam sejarah. Pusat Survei Geologi. Vol. 1 No. 4  hal 209-227
Wahyunto. wasito.(tt). Lintasan sejarah erupsi gunung berapi. Bogor. Balai Besar Sumber Daya Lahan. 











kelebihan dan kekurangan komik sebagai media pembelajaran

Kelebihan dan kekurangan Komik Menurut Rohani (1997:21) Media komik merupakan media yang mempunyai sifat sederhana, jelas, mudah dipahami,...